Makna Lagu no tears left to cry – Ariana Grande. “No Tears Left to Cry” adalah lagu yang mengubah segalanya. Dirilis tiba-tiba pada 20 April 2018 sebagai single pertama album keempat, lagu ini langsung jadi nomor satu di 20 negara dan memecahkan rekor streaming harian perempuan saat itu. Di permukaan, beat house yang upbeat dan hook “Right now I’m in a state of mind / I wanna be in like all the time / Ain’t got no tears left to cry” terdengar seperti anthem pesta. Tapi semua orang tahu ini bukan lagu bahagia biasa – ini adalah deklarasi bertahan hidup setelah tragedi terbesar dalam karier seorang penyanyi. Tujuh tahun kemudian, lagu ini masih jadi simbol resiliensi global setiap kali dunia membutuhkan harapan. BERITA BOLA
Latar Belakang Tragedi dan Keputusan Berani: Makna Lagu no tears left to cry – Ariana Grande
Lagu ini lahir 11 bulan setelah bom bunuh diri di konser Manchester yang menewaskan 22 orang dan melukai ratusan lainnya. Penyanyi itu mengalami PTSD berat, serangan panik, dan rasa bersalah yang dalam. Alih-alih menunda album atau membuat balada duka, ia memilih membuka era baru dengan lagu dansa. Ditulis bersama Max Martin, Ilya Salmanzadeh, dan Savan Kotecha dalam waktu singkat, liriknya selesai dalam satu malam penuh air mata yang berubah jadi tekad. Ia ingin lagu ini jadi pesan kepada penggemarnya yang selamat: kita boleh menangis, tapi kita juga boleh menari lagi.
Makna Lirik: Dari Air Mata ke Kekuatan: Makna Lagu no tears left to cry – Ariana Grande
Judul “No Tears Left to Cry” bukan berarti tak ada duka lagi, tapi sudah terlalu banyak sampai habis – sekarang saatnya melangkah. Baris “I’m lovin’, I’m livin’, I’m pickin’ it up” adalah mantra sederhana untuk bangkit. Bagian “We’re way too fly to partake in all this pain” adalah pengakuan bahwa rasa sakit tetap ada, tapi kita bisa memilih naik di atasnya. Video musik dengan simbol lepas dari gravitasi, makan malam di dinding, dan akhirnya melepaskan mantel hitam jadi metafora paling jelas: kita bisa terbang meski dunia terasa terbalik.
Dampak Budaya dan Penampilan Ikonik
Penampilan live pertama di acara televisi besar dengan paduan suara dan lighting ungu langsung jadi momen paling emosional tahun itu. Konser One Love Manchester menjadi bukti nyata: saat puluhan ribu orang bernyanyi “Ain’t got no tears in my body” sambil menangis dan menari, dunia melihat bahwa musik bisa menyembuhkan. Hingga 2025, setiap 22 Mei – tanggal tragedi – lagu ini kembali trending karena penggemar memutarnya sebagai bentuk penghormatan sekaligus perayaan bahwa mereka masih ada. Lagu ini juga sering dipakai di acara olahraga, pemulihan bencana, dan kampanye mental health sebagai simbol “kita bisa bangkit lagi”.
Kesimpulan
“No Tears Left to Cry” membuktikan bahwa lagu paling kuat sering lahir dari luka paling dalam. Dengan mengubah duka jadi dansa, penyanyi itu mengajarkan dunia cara baru untuk bertahan: boleh menangis sepuasnya, tapi jangan lupa bangun dan menari lagi. Tujuh tahun berlalu, pesan lagu ini masih sama relevannya – entah setelah putus cinta, kehilangan orang tersayang, atau bencana apa pun. Di akhirnya, “No Tears Left to Cry” bukan tentang tak punya air mata lagi, tapi tentang memilih tersenyum meski air mata sudah kering. Dan itulah kekuatan sejati: menari di tengah reruntuhan, karena hidup tetap harus berlanjut.

